Agama Buddha dan Ajarannya

Perbanyak Kebajikan , Kurangi Kejahatan , Sucikan Hati Dan Pikiran Inilah Inti Ajaran Para Buddha.
Namo Tassa Bhagavato Arahato SammaSamBuddhasa,
Namo Buddhaya,

Selasa, 07 Juli 2015

Riwayat Pangeran Siddhattha (1)

Kelahiran dan masa kecil Pangeran
•Kelahiran Pangeran Kerajaan Sakya
 Di kaki gunung Himalaya,Kapilavatthu terdapat sebuah kerajaan besar yaitu Kerajaan Sakya yang pemimpinnya merupakan seorang raja yg adil yaitu Raja Sudhodhana dan istinya bernama Ratu Mahamāyā(Devi Māyā).Raja dan istrinya sudah lama memimpikan seorg anak tp mrk blm punya ank jg sampai suatu saat,pd malam hari Sang Dewi memimpikan seekor gajah putih yang membawa sekuntum bunga teratai mengelilingiNya sebyk tiga kali dan masuk ke dalam perut bagian kanan Dewi.Sejak saat itu pun Dewi terjaga dan menceritakan mimpinya kepada Sang Raja.Raja memanggil para brahmana untuk mengartikan mimpi tersebut.Para brahmana mengartikan bahwa Dewi mengandung seorang putra yang kelak akan menjadi seorang Cakkvati(Raja dari para raja).Dan ternyata Sang Dewi memang mengandung,dan beliau dapat melihat dengan jelas bayi yg dikandungnya duduk dalam posisi meditasi dgn muka menghadap kedepan.

Sepuluh bulan kemudian Ratu memohon kepada Raja untuk melahirkan di rumah ibunya di Devadaha.Mereka berhenti di Taman Lumbini atas permintaan Sang Ratu utk melihat-lihat keindahan sekitar.Sesaat setelahnya Dewi Māyā merasakan perutnya kurang enak dan ingin melahirkan segera para pelayanNya menutupinya dengan kain dan Dewi melahirkan dengan berdiri dan satu tangannya memgang cabang pohon yang ada.Lahirlah Sang Pangeran.Pada saat itu tepat Bulan Purnama di Bulan Sidhi(Vaisak).Para Deva bersorak dan memandikannya dengan air suci dan teratai bumi bergetar kencang dan turunlah hujan Panas-Dingin.Sesaat setelah dilahirkan sang pangeran berjalan 7 langkah dan di setiap langkahnya muncul Bunga Teratai yang Bermekaran.Setelah 7 langkah tsb.Ia menunjuk jari telunjuk dan mengatakan"Akulah yang Teragung.Akulah yang terbesar.Akulah yang Tertua.Tiada kelahiran lain lagi bagiKu " 

Pada saat yang sama makhluk-makhluk pun lahir bersamaan dengan lahirnya pangeran diantaranya: Putri Yasodhara(Putri dari Raja Suppabuddha yang berasal dari kerajaan Kolliya yang kelak menjadi istri Sang Pangeran),Kuda Putih Kanthaka(kelak menjadi kuda kesayangan pangeran),Channa(kelak menjadi kusir sekaligus pelayan setia Pangeran),Devadattha(sepupu pangeran ),Ananda,pohon Bodhi(yang kelak menjadi tempat bernaung petapa Gotama sebelum menjadi Buddha),Kaludayi(yang kelak mengundang Bhagava kembali ke Kapilavatthu,dan Nidhikumbhi(kendi tempat harta pusaka).

Tidak jauh dari taman itu seorang petapa bernama Asita yang mengetahui kejadian luar biasa itu segera menuju istana.Sesampainya di istana ia melihat 32 tanda manusia agung(Mahapurisa).Ia pun bersukacitta dan memberi hormat Sang raja pun ikut memberi hormat.Tiba",sang petapa menangis raja pun terheran dan menanyakannya.Sang petapa menjawab"saya bergembira karena telah lahir seorang Bodhistta yang kelak menjadi Budda"Raja pun merasa tidak enak karena ia tidak ingin Putranya menjadi Buddha tetapi Raja.Raja pun menanyakan kenapa ia menangis.Sang petapa menjawab lagi"Baginda,saya menangis karena saya sudah tua tidak mungkin dapat mendengar ajaran Sang Tathagatha"

Lima hari setelahnya,Raja mengundang 108 orang brahmana diantaranya terdapat 8 brahmana yang mahir meramal nasib yaitu : Rama,Dhaja,Lakkhana,Manti,Kondañña,Bhoja,Suyama,dan Sudatta seiring dengan merayakan kelahiran pangeran dan memilih nama yang cocok untuk pangeran.Mereka bersama" memilihkan sebuah nama yang cocok yaitu Siddhatta yang artinya Tercapailah Cita-Citanya.7 peramal meramalkan bahwa pangeran kelak menjadi Cakkavati(Raja dari para Raja)atau seorang Pemimpin Agama(Buddha).Hanya Kondañña(brahmana termuda) yang meramalkan bahwa Pangeran Siddhatta pasti menjadi Seorang Buddha.Mereka meramalkan bahwa pangeran akan pergi meninggalkan istana dan menjadi petapa jika melihat 4 peristiwa yaitu :Orang Tua,Orang Sakit,Orang Mati,dan Brahmana/Petapa.Raja menjadi sangat khawatir dan memerintahkan agar istana hanya ada orang" sehat dan muda.

7 hari setelah lahirnya pangeran,ibuNya,Ratu MahaMāyā wafat dan pangeran diasuh oleh adiknya yaitu,Devi Pajapatti Gotami.Devi Pajapatti mengasuhNya seperti mengasuh putarnya sendiri,pangeran Nanda.

Masa Pendidikan Pangeran Siddhatta Gotama
Pada usia 8 tahun,pangeran mempunyai seorang guru bernama Visvamitta.Para guru pangeran kagun akan kehebatan pangeran yang cepat memahami segalanya.Sehingga gurunya bersujud dan mengatakan "Bukan Aku,Hanya Kaulah yang Menjadi Guruku,Terimalah Hormatku"

Pada usia 12 tahun pangeran telah menguasai segala ilmu.Pangeran menjadi seorang yang penuh cinta kasih terhadap semua makhluk baik kaum" 4 kasta,para satva,dan semua mkhluk lainnya.

Menyelamatkan Seekor Angsa
Pada suatu saat ketika pangeran Siddhatta sedang bermain di istana bersama teman"nya,Pangeran Devadattha membidik dan melukai seekor angsa dengan panahnya tetapi pangeran Siddhatta yang lebih dulu menangkapnya dan dengan lembut mencabut panah tersebut dan memberikan obat pada lukanya itu.Devadatha yang baru saja tiba menuntut agar unggas itu diserahkan kepadanya tetapi pangeran siddhatta menolaknya dan terjadilah perselisihan dan masalah ini disampaikan kepada para bijak.Akhirnya salah satu dari bijak tersebut berseru "Semua makhluk patut menjadi milik mereka yang menyelamatkan atau menjaga hidup.Kehidupan tak pantas menjadi milik orang yang menghancurkannya.Angsa yang terluka ini masih hidup dan diselamatkan oleh Pangeran Siddhatta.Karena ini Angsa ini pantas menjadi milik penyelamatnya yaitu ,Pangeran Siddhatta!

 Perayaan Membajak Sawah
Pada suatu waktu Raja membawa pangeran ke perayaan membajak sawah.Raja meninggalkan pangeran di kerumunan bersama para dayang istana dan raja sendiri pergi turun tangan dengan perayaan itu.Pangeran mengamati para kerbau yang menderita dicambuk dan pangeran juga mengamati rantai kehidupan yang sungguh menyedihkan.Pangeran Siddhatta merenungi apa yang dilihatnya meskipun ada makhluk yang berbahagia ada juga makhluk yang bersedih sehingga hatinya begitu bersimpati pada semua makhluk..Begitu para dayang menyadari pangeran tidak berada di kerumunan lagi mereka segera mencaribya dan terkejut ketika melihat pangeran yang sedang duduk di bawah pohon Bodhi dengan kaki bersila dalam meditasi yang dalam.Pada saat itu Pangeran telah menapai Jhana pertama.Para dayang segera memberi tau raja ttg hal ini.Raja dan petani yang berbonding bondong segera mengikuti mereka dan alangkah terkejutnya Sang Raja ketika melihat bayangan pohon jambu tidak berlawanan dengan sinar matahari(Tidak seperti biasanya)dan bayangan tersebut tetap berada memayungi San pangeran.Sang raja yang kagun melihatnya segera memberi hormat untuk yang Kedua kalinya.